PAREPARE, SUARA AJATAPPARENG —Kepadatan pengunjung kembali terjadi di depan loket RSUD Andi Makkasau pada Sabtu (14/2/2026). Sejumlah warga tampak berjejal sejak pagi hari akibat kendala memperoleh nomor antrean melalui sistem pendaftaran online yang terintegrasi dengan layanan BPJS Kesehatan.
Kali ini, sorotan utama warga tertuju pada mekanisme administrasi BPJS yang dinilai semakin kompleks, khususnya bagi pasien dengan jadwal kontrol rutin. Beberapa pasien poli jantung dan poli lainnya mengaku harus berulang kali melakukan proses verifikasi atau “ceklis” setiap bulan, meski data dan riwayat pengobatan mereka telah tersimpan dalam sistem.
“Setiap bulan kami kontrol di poli yang sama, datanya sudah ada. Tapi tetap harus mengulang proses dari awal seperti pasien baru. Itu yang membuat antrean panjang,” ungkap salah seorang warga.
Menurut pengunjung, kendala teknis pada sistem yang terhubung dengan BPJS kerap memperlambat proses validasi kepesertaan. Ketika jaringan atau aplikasi mengalami gangguan, pelayanan di loket pun ikut tersendat dan memicu penumpukan.
Pengamat pelayanan publik menilai, integrasi sistem rumah sakit dan BPJS perlu dievaluasi secara menyeluruh. Stabilitas jaringan, sinkronisasi data pasien kontrol rutin, hingga penyederhanaan prosedur administrasi menjadi aspek penting yang harus diperbaiki agar tidak membebani pasien.
“Transformasi digital tidak boleh justru menambah tahapan birokrasi. Bagi pasien yang sudah terdaftar dan rutin berobat, seharusnya ada mekanisme otomatisasi atau verifikasi berkala tanpa harus mengulang prosedur yang sama setiap bulan,” ujarnya.
Meski demikian, warga juga mengapresiasi sikap staf dan manajemen rumah sakit yang tetap berupaya melayani dengan sabar dan komunikatif di tengah lonjakan pengunjung. Petugas terlihat berusaha menjelaskan kendala sistem serta membantu warga menyelesaikan proses administrasi.
Masyarakat berharap ada perbaikan koordinasi antara pihak rumah sakit dan BPJS agar pelayanan berjalan lebih efisien. Sistem yang andal, prosedur yang sederhana, serta komunikasi yang jelas dinilai menjadi kunci agar layanan kesehatan benar-benar memberikan kemudahan, bukan sebaliknya.(*AD).

