PAREPARE, AJATAPPARENG – Dinamika harga ayam potong menjelang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri tidak hanya terjadi di Kota Parepare, namun mulai merambat ke wilayah sekitar seperti Sidenreng Rappang (Sidrap). Fenomena ini menimbulkan pertanyaan baru: apakah kenaikan harga turut dipengaruhi oleh cepatnya arus informasi di tengah masyarakat?
Salah satu warga di Sidrap mengungkapkan bahwa harga ayam yang sebelumnya berada di kisaran Rp65.000 per ekor, kini ikut melonjak hingga mendekati Rp100.000. “100 mi juga ayam di sini, kemarin masih 65,” ujarnya, menggambarkan perubahan harga yang terjadi dalam waktu relatif singkat.
Efek Psikologis Pasar dan Informasi
Kondisi ini menunjukkan adanya indikasi efek psikologis pasar, di mana informasi yang beredar cepat — baik melalui media maupun percakapan antarwarga — dapat memengaruhi perilaku pelaku pasar.
Dalam teori ekonomi, fenomena ini sering disebut sebagai expectation-driven inflation, yaitu kenaikan harga yang dipicu oleh ekspektasi atau kekhawatiran bahwa harga akan terus naik. Akibatnya:
– Pedagang cenderung menyesuaikan harga lebih cepat
- Konsumen melakukan pembelian lebih awal (panic buying ringan)
- Rantai distribusi ikut bereaksi terhadap persepsi pasar
Dengan kata lain, bukan hanya faktor pasokan dan permintaan riil, tetapi juga persepsi dan informasi yang beredar dapat mempercepat kenaikan harga.
Antara Realitas dan Persepsi
Perlu dipahami bahwa tidak semua kenaikan harga di daerah seperti Sidrap semata-mata disebabkan oleh kekurangan stok. Bisa jadi:
– Stok masih relatif aman, namun harga naik karena mengikuti tren regional
– Pedagang mengantisipasi lonjakan permintaan hari raya
– Informasi dari daerah lain (seperti Parepare) menjadi referensi harga baru
Hal ini menunjukkan bahwa pasar modern semakin sensitif terhadap arus informasi, bahkan pada level lokal.
Pentingnya Informasi yang Berimbang
Dalam situasi seperti ini, peran media dan otoritas menjadi sangat penting untuk memastikan informasi yang disampaikan bersifat akurat, proporsional, dan tidak memicu kepanikan.
Informasi yang terlalu cepat menyebar tanpa konteks berpotensi:
- Memicu spekulasi harga
- Mendorong kenaikan yang tidak sepenuhnya berbasis data riil
– Menimbulkan keresahan di masyarakat
Sebaliknya, informasi yang edukatif dan berimbang justru dapat menjadi alat stabilisasi pasar.
Peran Pemerintah dan Pengawasan Terpadu
Menghadapi fenomena ini, pemerintah daerah baik di Parepare maupun Sidrap diharapkan:
– Memperkuat koordinasi lintas wilayah
– Menyampaikan data harga dan stok secara transparan
– Mengedukasi masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan
- Mengawasi potensi praktik penyesuaian harga yang tidak wajar
Langkah preventif ini penting agar inflasi tidak berkembang dari sekadar fenomena musiman menjadi tekanan ekonomi yang lebih luas.
Penutup
Kenaikan harga ayam potong yang mulai merambat dari Parepare ke Sidrap menjadi cerminan bahwa pasar saat ini tidak hanya digerakkan oleh faktor ekonomi klasik, tetapi juga oleh kecepatan informasi dan persepsi kolektif masyarakat.
Dengan pengelolaan informasi yang bijak, pengawasan yang efektif, serta kesadaran bersama antara pelaku usaha dan konsumen, stabilitas harga diharapkan tetap terjaga. Pada akhirnya, tujuan utamanya adalah memastikan masyarakat dapat menyambut hari raya dengan rasa aman, tanpa dibebani gejolak harga yang berlebihan.(*AD).

