PAREPARE, SUARA AJATAPPARENG – Fajar belum pecah sempurna, tapi Masjid Besar Nurul Huda Labukkang sudah tak mampu menampung lautan manusia. Jumat Subuh, 24 April 2026, sekitar lebih limaratusan jamaah berpakaian serba putih tumpah ruah hingga ke pelataran masjid.
Inilah potret Safari Shalat Subuh Berjamaah Majelis Syuhada Kota Parepare. Gairahnya makin luar biasa. Shaf rapat, memanjang memenuhi area masjid, jadi bukti bahwa istiqamah membangunkan kota di waktu Subuh bukan mimpi.
Antusiasme lintas kalangan jadi ciri khas gerakan ini. Barisan Subuh pagi itu diisi tokoh masyarakat, pejabat aktif, hingga para purnabakti Pemkot Parepare yang kembali merindukan masjid.
Tampak hadir Ketua Majelis Syuro Majelis Syuhada H. Pangerang Rahim, Pembina AKBP (Purn) H. Muhabar, dan Muassis H. Bakhtiar Syarifuddin. Deretan mantan Sekda dan pejabat senior juga ikut memutihkan shaf: H. Muhammad Husni Syam, Dr. Salim Sultan, H. Nasarong, H. Minhajuddin Ahmad, Drs. H. Amie Lolo, H. Anwar Saad, hingga Drs. H. Andi Mappanyukki.
Dari pejabat aktif, hadir Kadis Perpustakaan H. Ahmad Masdar dan Kabag Kesra H. Muh. Shodiq Asli Umar. Tak ketinggalan pengurus masjid se-Kota Parepare, para ustaz, majelis taklim, dan jamaah dari berbagai penjuru yang sengaja datang demi nikmatnya Subuh berjamaah.
Sambutan penuh haru disampaikan Ustaz Said, mewakili Ketua DKM Masjid Besar Nurul Huda H. Abdul Samad Budu. Ini kali keempat Majelis Syuhada menyambangi masjid yang berdiri megah dekat Pelabuhan Nusantara itu.
“Alhamdulillah, ini sudah keempat kalinya Majelis Syuhada hadir di masjid kami. Jumlah jamaah yang hadir sangat luar biasa, bahkan tak terhitung, bagaikan malaikat Subuh dengan pakaian serba putih. Kami juga mohon maaf jika dalam penyambutan terdapat kekurangan,” ucapnya dengan suara bergetar.
Tausiah Subuh dibawakan Ustaz Dr. Abdul Latief. Temanya mengena: keutamaan sedekah, terutama di waktu Subuh.
“Salah satu malaikat mendoakan agar rezeki orang yang bersedekah ditambah. Sementara malaikat lainnya mendoakan kebinasaan bagi orang yang kikir. Karena itu, jangan menjadi pribadi yang ‘masekke dan makeddi’ alias kikir,” tegasnya disambut anggukan jamaah.
Ia menambahkan, sedekah adalah obat segala penyakit, penolak bala, bahkan wasilah memanjangkan umur. Rutinkan meski kecil, dampaknya besar. “Bisa jadi dari koin-koin Subuh kita, Allah izinkan terbangun masjid di masa depan,” ujarnya.
Safari Subuh Majelis Syuhada kembali menegaskan satu hal: masjid akan hidup kalau jamaahnya bangkit. Shalat Subuh berjamaah jadi pintu masuk, sedekah jadi bahan bakar, silaturahim jadi pengikat.
Dari Labukkang, pesan itu kembali menggema. Bahwa kebersamaan umat tidak dibangun dengan spanduk, tapi dengan shaf yang rapat di gelapnya fajar. (*asp)

