PAREPARE, SUARA AJATAPPARENG — Semangat memakmurkan masjid kembali diperlihatkan jamaah Majelis Syuhada Parepare. Pada Jumat dini hari, 15 Mei 2026, sekitar 500 jamaah dijadwalkan melaksanakan Shalat Subuh berjamaah di Masjid Jami Nurussamawati, Kota Parepare.
Kegiatan ini memang bukan yang pertama. Namun di balik rutinitas Subuh berjamaah tersebut, tersimpan nilai sejarah dan perjalanan panjang sebuah masjid yang menjadi bagian dari jejak pembangunan umat Islam di era pemerintahan Presiden Soeharto.
Masjid Nurussamawati yang berada tidak jauh dari Rumah Sakit Andi Makkasau dikenal sebagai salah satu masjid dengan desain khas program pembangunan masjid Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Arsitekturnya memiliki ciri atap bertingkat tiga yang seragam dengan ratusan masjid lain di berbagai daerah di Indonesia.
Ketua DKM Masjid Nurussamawati, H. Muhammad Husain, SP bersama jajaran pengurus menyatakan kesiapan menyambut kedatangan jamaah Majelis Syuhada. Shalat Subuh berjamaah nantinya akan dipimpin Imam Masjid, Usman Toha, SE., MM., sementara tausiyah agama dijadwalkan dibawakan Ustadz H. Haeruddin, S.Pd.I., MA.
Warisan Program Keumatan
Masjid Nurussamawati dibangun pada tahun 1986. Kehadirannya tidak lepas dari program pembangunan masjid yang digagas melalui Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang dibentuk pada 1982.
Program tersebut lahir dari kepedulian terhadap kondisi masyarakat yang kala itu berjuang secara swadaya membangun rumah ibadah. Melalui yayasan tersebut, masyarakat muslim, khususnya dari kalangan ASN, TNI dan Polri diajak menyisihkan sebagian penghasilannya untuk pembangunan masjid di berbagai daerah.
Tokoh masyarakat Parepare, H. Iskandar, yang turut terlibat dalam pembangunan masjid itu menuturkan bahwa sejak berdiri hingga sekarang, Masjid Nurussamawati terus mengalami pembenahan guna meningkatkan kenyamanan jamaah.
“Masjid ini bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol gotong royong dan kebersamaan umat,” ujarnya.
Berbenah untuk Kenyamanan Jamaah
Secara fisik, bentuk utama Masjid Nurussamawati masih mempertahankan karakter awalnya. Namun sejumlah renovasi telah dilakukan secara bertahap oleh para pengurus dari masa ke masa.
Pada periode kepengurusan sebelumnya di bawah H. Husni Syam, SH., MH., dilakukan perluasan area teras depan dan samping yang kini difungsikan sebagai tambahan ruang shalat ketika jamaah membludak. Perbaikan plafon juga membuat interior masjid terlihat lebih nyaman dan representatif.
Sementara pada kepengurusan saat ini, H. Muhammad Husain bersama pengurus berhasil menata area parkir agar lebih luas, tertib dan bersih sehingga mendukung kenyamanan jamaah yang datang beribadah.
Tidak berhenti di situ, pengurus masjid kini juga tengah mempersiapkan pembangunan mihrab baru dengan estimasi anggaran sekitar Rp100 juta.
Koordinator pembangunan mihrab, Ali Latif, SH mengatakan proses pembangunan direncanakan segera dimulai meski pendanaan masih terbatas.
“Insyaallah dalam satu dua hari ini pekerjaan sudah dimulai. Kami optimistis pembangunan dapat dirampungkan dengan dukungan dan partisipasi jamaah serta masyarakat,” ujarnya.
Memakmurkan Masjid, Menguatkan Ukhuwah
Kehadiran Majelis Syuhada di Masjid Nurussamawati bukan sekadar agenda rutin ibadah berjamaah. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi momentum mempererat ukhuwah Islamiyah, menghidupkan masjid, sekaligus mengenalkan sejarah dan nilai perjuangan generasi terdahulu dalam membangun sarana ibadah.
Di tengah perkembangan zaman, semangat gotong royong dan kepedulian sosial seperti inilah yang dinilai penting untuk terus diwariskan kepada generasi muda, agar masjid tetap menjadi pusat pembinaan umat, pendidikan akhlak dan penguatan kebersamaan masyarakat.
(takdirabduh)

