MAKASSAR, SUARA AJATAPPARENG — Dinamika menjelang Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan terus menjadi perhatian berbagai kalangan insan pers. Penekanan terhadap pentingnya rekam jejak, integritas, kapasitas kepemimpinan, serta visi dan misi para calon Ketua PWI Sulsel dinilai harus menjadi pertimbangan utama sebelum menentukan pilihan.
Mengutip pemberitaan halilintarnews.com, salah satu tokoh pers senior, Arumahi, mengingatkan agar seluruh insan pers tidak gegabah dalam menyikapi kontestasi organisasi wartawan tersebut.
“Seluruh jajaran Media Sinergi wajib memahami rekam jejak dan visi-misi kedua calon Ketua PWI Sulsel. Sikap kritis dan kehati-hatian sangat diperlukan agar kita tidak seperti membeli kucing dalam karung,” tegas Arumahi, yang juga dikenal sebagai mantan Pemimpin Redaksi Harian Pedoman Rakyat.
Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari kalangan wartawan senior di daerah, termasuk mantan Ketua PWI Parepare-Barru. Menurutnya, pesan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab moral seorang senior pers agar para wartawan di Sulawesi Selatan tetap bijaksana menyikapi dinamika konferensi dan tidak terjebak pada propaganda maupun sentimen kelompok tertentu.
Ia menilai, memilih pemimpin organisasi profesi seperti PWI tidak cukup hanya berdasarkan kedekatan emosional atau ajakan kelompok, melainkan harus mengedepankan penilaian objektif terhadap kualitas calon.
“Jangan beli kucing dalam karung. Pemimpin PWI Sulsel ke depan harus dipilih secara cermat dan profesional. Lihat bobot, bebet, dan bibitnya,” ujarnya.
Dalam penjelasannya, filosofi “bibit, bebet, dan bobot” dimaknai sebagai ukuran menyeluruh terhadap kapasitas seorang calon pemimpin.
Bibit mengacu pada latar belakang dan nilai-nilai keluarga yang membentuk karakter seseorang. Bebet berkaitan dengan rekam sosial, kemapanan, hingga kemampuan menjaga marwah organisasi. Sementara bobot menitikberatkan pada kualitas pribadi, integritas, pendidikan, pengalaman organisasi, serta kesiapan mental dalam memimpin.
Ketua SMSI Kota Parepare itu juga berharap seluruh wartawan menggunakan naluri jurnalistik dan kejernihan berpikir dalam menentukan pilihan.
“Teman-teman wartawan harus memilih berdasarkan apa yang diketahui dan dipahami, bukan karena hasutan atau ajakan untuk menjelekkan calon lain. Saya yakin teman-teman wartawan itu cerdas dan mampu menilai sendiri siapa yang layak memimpin,” tambahnya.
Di tengah meningkatnya tensi menjelang Konferensi PWI Sulsel, berbagai pihak berharap proses demokrasi organisasi tetap berjalan sehat, elegan, dan menjunjung tinggi etika profesi kewartawanan. Perbedaan pilihan dinilai sebagai hal wajar dalam organisasi, namun persatuan dan marwah PWI tetap harus menjadi prioritas bersama.(*AD)

