JAKARTA, SUARA AJATAPPARENG – Kepercayaan dunia internasional kepada Indonesia untuk menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Sepak Takraw 2027 di Makassar menjadi capaian strategis yang membanggakan. Keberhasilan tersebut tidak lepas dari peran aktif dan kepemimpinan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB PSTI), Dr. H. Surianto A.M., S.Ag., M.M., dalam memperkuat diplomasi olahraga Indonesia di tingkat global.
Apresiasi tersebut disampaikan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia, Letjen TNI (Purn.) Marciano Norman, usai menerima kunjungan kehormatan jajaran pimpinan sepak takraw Asia dan dunia di Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Menurut Marciano, terpilihnya Indonesia sebagai penyelenggara kejuaraan dunia merupakan sebuah pencapaian besar yang menunjukkan meningkatnya kepercayaan komunitas olahraga internasional terhadap kapasitas bangsa dalam menggelar ajang olahraga berskala global.
“Hal yang sangat menggembirakan adalah Indonesia menjadi tuan rumah kejuaraan sepak takraw dunia pada tahun 2027 di Makassar,” ujar Marciano.
Kepercayaan tersebut dinilai sebagai buah dari kerja keras, konsistensi pembinaan, serta kemampuan membangun komunikasi dan kolaborasi yang kuat dengan federasi sepak takraw internasional. Di bawah kepemimpinan Surianto, PB PSTI tidak hanya fokus pada prestasi atlet, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pengembangan sepak takraw dunia.
Dalam pertemuan tersebut, turut hadir Presiden Asian Sepaktakraw Federation Datuk Abdul Halim Kader, Sekretaris Jenderal International Sepak Takraw Federation, serta jajaran pengurus PB PSTI. Kunjungan kerja yang berlangsung pada 8–12 Juni 2026 itu menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan kelembagaan sekaligus membahas agenda strategis pengembangan sepak takraw internasional.
Selain membahas persiapan Kejuaraan Dunia 2027, pertemuan juga menyoroti kesiapan menghadapi ajang Asian Games 2026 di Jepang. KONI Pusat berharap cabang olahraga sepak takraw mampu memberikan kontribusi prestasi terbaik bagi Indonesia dan mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama Asia.
Pada kesempatan itu, Surianto juga memaparkan salah satu program unggulan PB PSTI, yakni peluncuran Liga Sepak Takraw Indonesia (LSI) 2026. Kompetisi nasional tersebut dirancang sebagai instrumen pembinaan berkelanjutan untuk mencetak atlet-atlet berkualitas melalui sistem kompetisi yang terstruktur dan kompetitif.
“Kami terus membangun sistem pembinaan yang berjenjang, modern, dan kompetitif. LSI 2026 direncanakan berlangsung di lima wilayah Indonesia sebagai bagian dari upaya memperluas pembinaan dan meningkatkan kualitas atlet nasional,” ungkap Surianto.
Gagasan tersebut mendapat perhatian positif karena dinilai sejalan dengan kebutuhan pembinaan olahraga modern yang menempatkan kompetisi sebagai fondasi utama peningkatan kualitas atlet.
Lebih jauh, Surianto menegaskan bahwa kehadiran pimpinan ASTAF dan ISTAF di Indonesia merupakan kesempatan berharga untuk memperkuat diplomasi olahraga sekaligus meningkatkan peran Indonesia dalam menentukan arah perkembangan sepak takraw dunia.
Kepemimpinan Surianto yang visioner dan berorientasi pada pembangunan ekosistem olahraga secara menyeluruh dinilai telah membawa PB PSTI memasuki babak baru. Tidak hanya mengejar prestasi di arena pertandingan, tetapi juga membangun fondasi organisasi yang kuat, memperluas jejaring internasional, serta menghadirkan program pembinaan yang berkelanjutan.
Dengan ditunjuknya Makassar sebagai tuan rumah Kejuaraan Dunia Sepak Takraw 2027 dan hadirnya Liga Sepak Takraw Indonesia 2026, Indonesia kini berada pada posisi yang semakin strategis dalam peta olahraga sepak takraw internasional. Capaian tersebut menjadi bukti bahwa melalui kepemimpinan yang kuat, kolaborasi yang luas, dan visi yang jelas, sepak takraw Indonesia tengah bergerak menuju era kebangkitan yang lebih gemilang.(*AD).

