JAKARTA, SUARA AJATAPPARENG – Sepak takraw Indonesia memasuki babak baru yang semakin menjanjikan. Melalui kolaborasi strategis antara Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB PSTI), dan Asian Sepaktakraw Federation (ASTAF), berbagai program penguatan sumber daya manusia, standardisasi peralatan, hingga pengembangan industri olahraga nasional mulai diwujudkan secara nyata.
Salah satu momentum penting dari kolaborasi tersebut adalah Pra Peluncuran Bola Sepak Takraw Indonesia, yang menjadi simbol lahirnya bola sepak takraw produksi dalam negeri dengan standar internasional ASTAF dan ISTAF. Produk tersebut dijadwalkan diluncurkan secara resmi pada 28 November 2026.
Di balik berbagai terobosan tersebut, kepemimpinan Ketua Umum PB PSTI, Prof. Dr. H. Surianto AM, S.Ag., M.M., mendapat apresiasi luas. Sejak dipercaya memimpin organisasi, PB PSTI dinilai semakin aktif membangun kemitraan dengan perguruan tinggi, memperluas jejaring internasional, serta menghadirkan berbagai program yang berorientasi pada pembinaan atlet, peningkatan kualitas wasit, pelatih, hingga pengembangan industri olahraga.
Komitmen itu tercermin melalui penyelenggaraan Pelatihan Wasit Sepak Takraw Nasional di Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Jakarta pada 16–20 Juli 2026. Pelatihan tersebut menjadi bagian dari implementasi kerja sama PB PSTI dengan ASTAF dan UNJ dalam mencetak perangkat pertandingan yang memiliki kompetensi sesuai standar internasional.
Kolaborasi ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara jajaran PB PSTI, UNJ, dan delegasi ASTAF yang dipimpin Presiden ASTAF, Datuk Abdul Halim Bin Kader. Pertemuan tersebut menandai lahirnya sinergi antara dunia akademik dan organisasi olahraga untuk memperkuat fondasi sepak takraw Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Prof. H. Surianto, PB PSTI juga menggulirkan Liga Sepak Takraw Indonesia 2026 yang berlangsung di lima regional sebagai bagian dari sistem pembinaan nasional yang berkesinambungan. Kompetisi tersebut menjadi wadah lahirnya atlet-atlet potensial menuju level internasional.
Tidak hanya fokus pada pembinaan atlet, PB PSTI juga mendorong kemandirian industri olahraga nasional melalui pengembangan bola sepak takraw produksi Indonesia yang memenuhi standar internasional. Langkah ini dipandang sebagai tonggak penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap produk impor sekaligus meningkatkan daya saing industri olahraga dalam negeri.
Seluruh program tersebut diarahkan untuk menyukseskan target besar Indonesia menjadi tuan rumah Kejuaraan Dunia Sepak Takraw 2027 di Makassar. Dengan dukungan pemerintah, perguruan tinggi, serta federasi internasional, Indonesia diharapkan tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi pusat pengembangan sepak takraw dunia.
Berbagai capaian tersebut memperlihatkan bahwa kepemimpinan Prof. Dr. H. Surianto tidak hanya berorientasi pada prestasi di lapangan, tetapi juga pada pembangunan sistem olahraga yang modern, berkelanjutan, dan berdaya saing global. Kolaborasi yang dibangun bersama UNJ dan ASTAF menjadi fondasi penting bagi masa depan sepak takraw Indonesia di pentas internasional.(*AD).

