Site icon Suara Ajatappareng

Ketegasan Pemimpin di Tengah Ancaman El Nino: Teladan Syaharuddin Alrif untuk Kepala Daerah

Oleh: Abdul Razak Arsyad, S.H., M.H.
Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kota Parepare

SUARA AJATAPPARENG — Ancaman El Nino bukan sekadar fenomena perubahan cuaca. Bagi daerah yang menggantungkan denyut ekonominya pada sektor pertanian, El Nino adalah ujian kepemimpinan. Dalam situasi seperti ini, masyarakat tidak hanya membutuhkan kebijakan administratif, tetapi juga membutuhkan pemimpin yang hadir, mengambil keputusan, dan memberikan kepastian.

Apa yang dilakukan Bupati Sidenreng Rappang, H. Syaharuddin Alrif, patut diapresiasi sebagai contoh kepemimpinan yang responsif. Langkah cepat memastikan ketersediaan air irigasi, menjamin distribusi solar bagi petani, serta mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar spiritual menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati lahir dari kemampuan membaca persoalan sekaligus menghadirkan solusi.

Sebagai Ketua SMSI Kota Parepare, saya memandang keberanian dan ketegasan seperti inilah yang semestinya dimiliki setiap kepala daerah. Seorang pemimpin tidak boleh menunggu masalah membesar sebelum bertindak. Ia harus hadir lebih awal, memetakan risiko, dan mengambil kebijakan yang memberikan rasa aman kepada masyarakat.

Sidrap bukan tanpa alasan dikenal sebagai Bumi Nene Mallomo. Daerah ini memiliki warisan nilai luhur yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Bugis, yaitu Lempu’ (jujur), Getteng (teguh pada prinsip), dan Warani (berani). Nilai-nilai tersebut bukan sekadar slogan budaya, tetapi menjadi karakter yang seharusnya melekat pada setiap pemimpin.

Dalam konteks menghadapi El Nino, karakter itu tampak tercermin dalam kepemimpinan Syaharuddin Alrif. Keberaniannya mengambil langkah antisipatif menunjukkan sikap warani. Konsistensinya memperjuangkan kebutuhan petani mencerminkan getteng. Sementara orientasinya yang berpihak kepada kepentingan masyarakat adalah wujud nyata dari nilai lempu’.

Lebih dari itu, ajakan untuk mengiringi berbagai upaya teknis dengan doa menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya bertumpu pada kemampuan manusia, tetapi juga pada kesadaran spiritual. Dalam budaya Bugis, usaha dan doa bukanlah dua hal yang dipertentangkan, melainkan saling melengkapi.

Filosofi luhur Bugis, “Resopa temmangingi, namalomo naletei pammase Dewata”, mengajarkan bahwa hanya melalui kerja keras, kesungguhan, dan ketekunan, rahmat Tuhan akan datang. Filosofi tersebut menjadi sangat relevan dengan langkah-langkah yang diambil Pemerintah Kabupaten Sidrap. Pemerintah bekerja maksimal, masyarakat diajak berikhtiar, dan seluruh elemen bersatu menghadapi tantangan.

Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi daerah saat ini, publik sesungguhnya merindukan pemimpin yang mampu memberikan ketenangan, bukan menambah keresahan. Pemimpin yang berani mengambil keputusan, berkomunikasi secara terbuka, dan mampu menghadirkan solusi konkret akan selalu mendapatkan tempat di hati masyarakat.

Kepemimpinan seperti inilah yang seharusnya menjadi inspirasi bagi kepala daerah lainnya. Setiap daerah tentu memiliki karakteristik dan tantangan yang berbeda, namun keberanian mengambil tanggung jawab, kecepatan bertindak, serta keberpihakan kepada kepentingan rakyat merupakan prinsip universal yang harus dimiliki setiap pemimpin.

Sebagai insan pers, SMSI memiliki tanggung jawab moral untuk memberikan apresiasi terhadap praktik-praktik kepemimpinan yang memberi dampak positif bagi masyarakat. Kritik tetap penting sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial, tetapi penghargaan terhadap kebijakan yang baik juga merupakan bagian dari jurnalisme yang sehat dan berimbang.

Semoga langkah-langkah yang dilakukan Bupati Sidrap H. Syaharuddin Alrif menjadi inspirasi bagi kepala daerah di berbagai wilayah Indonesia. Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang pemimpin bukan hanya pada banyaknya program yang diluncurkan, melainkan pada keberanian mengambil keputusan yang melindungi rakyat ketika menghadapi tantangan.

Itulah hakikat kepemimpinan yang diwariskan oleh Bumi Nene Mallomo: Lempu’, Getteng, Warani. Sebuah karakter yang bukan hanya layak dikenang sebagai warisan budaya, tetapi juga layak diwujudkan dalam setiap kebijakan demi kesejahteraan masyarakat.

Exit mobile version