Surianto: Atlet di Parepare Saya Anggap Seperti Keluarga, Karena Saya Orang Parepare
PAREPARE, SUARA AJATAPPARENG – Kepedulian terhadap atlet tidak hanya ditunjukkan melalui program pembinaan, tetapi juga dengan hadir langsung di tengah-tengah mereka. Hal itu kembali diperlihatkan Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB PSTI), Prof. Dr. H. Surianto AM, saat mengunjungi atlet nasional sepak takraw Indonesia yang menjalani pemusatan latihan di GOR Gelora Mandiri, Kota Parepare.
Kunjungan tersebut menjadi momentum penting bagi para atlet yang tengah mempersiapkan diri menghadapi agenda internasional, termasuk Asian Games di Nagoya, Jepang, September 2026, serta Sepak Takraw World Cup 2027 di Makassar, Sulawesi Selatan.
Dalam kunjungannya, Prof. Dr. H. Surianto sekaligus menyerahkan bola sepak takraw standar yang akan digunakan sebagai bagian dari latihan atlet. Penyerahan tersebut menjadi bagian dari upaya PB PSTI memastikan atlet berlatih menggunakan perlengkapan yang sesuai dengan standar pertandingan internasional.
Kehadiran Ketua Umum PB PSTI di tengah atlet mendapat apresiasi dari Sukri Millah, yang turut mendampingi Surianto dalam kunjungan tersebut.
Menurut Sukri, perhatian Surianto terhadap atlet menunjukkan kepedulian yang tidak sebatas hubungan organisatoris.
“Pak Prof itu selalu ingat atletnya, walau beliau sibuk,” ujar Sukri.
Atlet di Parepare Dianggap Seperti Keluarga
Usai mengunjungi para atlet di GOR Gelora Mandiri, Surianto menyempatkan diri beristirahat sambil menikmati kopi di Warkop DIPO. Kepada media, ia menegaskan bahwa perhatian terhadap atlet merupakan bagian dari tanggung jawabnya sebagai Ketua Umum PB PSTI.
Surianto juga memiliki alasan khusus menjadikan Parepare sebagai salah satu pusat latihan atlet nasional sepak takraw.
“Itu bagian dari tanggung jawab saya. Saya jadikan pusat latihan atlet-atlet di Parepare karena saya orang Parepare. Saya kunjungi mereka bagaikan saya mengunjungi keluarga saya,” tutur Surianto.
Pernyataan tersebut disampaikannya dengan suasana santai, sembari menikmati salah satu makanan kesukaannya, pisang goreng.
Bagi Surianto, kedekatan dengan atlet menjadi bagian penting dalam membangun suasana pembinaan yang sehat. Atlet tidak hanya membutuhkan program latihan, tetapi juga dukungan moral, perhatian dan rasa kekeluargaan agar mampu menjalani proses pembinaan secara optimal.
Bola Merah-Putih untuk Putra, Putih-Merah untuk Putri
Dalam kesempatan tersebut, Surianto juga menjelaskan mengenai bola sepak takraw yang diserahkan kepada para atlet.
PB PSTI menyiapkan dua desain warna bola yang menjadi identitas khas Indonesia. Bola kombinasi merah-putih diperuntukkan bagi atlet putra, sementara bola kombinasi putih-merah digunakan untuk atlet putri.
Penggunaan bola tersebut bukan sekadar memberikan identitas visual, tetapi juga menjadi bagian dari standardisasi perlengkapan latihan dan pertandingan menuju berbagai agenda internasional yang akan dihadapi atlet Indonesia.
Kehadiran bola baru tersebut diharapkan dapat membantu atlet beradaptasi dengan karakteristik bola yang akan digunakan dalam kompetisi internasional, sekaligus meningkatkan kualitas latihan di pusat pembinaan.
Parepare dan Jalan Panjang Menuju Panggung Dunia
Konsistensi PB PSTI menempatkan Parepare sebagai salah satu pusat latihan atlet nasional menjadi kabar positif bagi perkembangan olahraga sepak takraw di Sulawesi Selatan.
Kota Parepare tidak hanya menjadi tempat latihan, tetapi berpotensi menjadi salah satu simpul penting dalam ekosistem pembinaan atlet nasional menuju kompetisi internasional.
Dengan agenda Asian Games 2026 di Nagoya dan World Cup 2027 di Makassar, keberadaan pusat latihan di Parepare memberikan nilai strategis. Para atlet dapat menjalani proses persiapan secara berkesinambungan sekaligus membangun kedekatan dengan masyarakat dan lingkungan olahraga daerah.
Kunjungan langsung Ketua Umum PB PSTI pun memberikan pesan bahwa pembinaan prestasi tidak berhenti pada penyusunan program dan target medali. Ada manusia di balik setiap prestasi—atlet yang membutuhkan perhatian, dukungan dan keyakinan bahwa perjuangan mereka tidak berjalan sendirian.
Dari Parepare, semangat itu terus dirawat. Dari lapangan latihan di GOR Gelora Mandiri, para atlet nasional dipersiapkan untuk membawa nama Indonesia ke panggung Asia dan dunia.(*AD).

