Site icon Suara Ajatappareng

H. Surianto Kawal Misi Sepak Takraw Indonesia: Dari Pembinaan Nasional Menuju Podium Asian Games

Bersama Menpora Erick Thohir dan Todotua Pasaribu, Surianto Teguhkan Komitmen Jaga Merah Putih di Aichi-Nagoya

JAKARTA, SUARA AJATAPPARENG — Semangat Indonesia untuk mempertahankan kehormatan Merah Putih di pentas olahraga Asia semakin menguat. Menjelang Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, seluruh elemen olahraga nasional mulai mematangkan konsolidasi, termasuk cabang olahraga sepak takraw yang terus dipersiapkan untuk memberikan kontribusi terhadap prestasi Indonesia.

Momentum tersebut terlihat dalam kegiatan “Tim Indonesia Day: Menjaga Merah Putih” di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan, Sabtu (29/8) malam.

Sejumlah tokoh olahraga nasional hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir, Wakil Menpora Taufik Hidayat, Chef de Mission (CdM) Tim Indonesia untuk Asian Games 2026 Todotua Pasaribu, serta para pimpinan cabang olahraga, termasuk H. Surianto dari Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI).

Kehadiran H. Surianto menjadi penting dalam konteks persiapan sepak takraw Indonesia menuju Aichi-Nagoya. Sebagai bagian dari jajaran pimpinan PB PSTI, ia berada dalam mata rantai pembinaan dan pengembangan sepak takraw nasional yang bertugas memastikan cabang olahraga tersebut mampu tampil kompetitif di level Asia.

Sepak Takraw, Cabang yang Tak Boleh Dipandang Sebelah Mata

Sepak takraw memiliki karakter yang khas bagi Indonesia.

Cabang olahraga ini bukan hanya membutuhkan kekuatan fisik, tetapi juga kecepatan, kelenturan, teknik, konsentrasi, keberanian dan kerja sama tim yang sangat tinggi.

Karena itu, perjalanan menuju Asian Games bukan sesuatu yang dibangun dalam waktu singkat.

Di balik penampilan atlet di arena pertandingan terdapat proses panjang berupa pembinaan, seleksi, pemusatan latihan, evaluasi, peningkatan kualitas pelatih hingga penguatan organisasi.

Di sinilah peran PB PSTI menjadi sangat strategis.

H. Surianto bersama jajaran pengurus PB PSTI memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh proses tersebut berjalan dalam satu arah: menciptakan atlet sepak takraw Indonesia yang siap bersaing dengan negara-negara terbaik Asia.

Dari Organisasi, Atlet hingga Prestasi

Pertemuan “Tim Indonesia Day” memperlihatkan bahwa keberhasilan olahraga nasional tidak dapat dibebankan hanya kepada atlet.

Atlet memang menjadi ujung tombak ketika pertandingan berlangsung. Namun kualitas atlet sangat dipengaruhi oleh sistem pembinaan yang dibangun organisasi cabang olahraga.

H. Surianto berada dalam posisi tersebut.

Penguatan organisasi, pembinaan atlet, komunikasi dengan pemerintah, koordinasi dengan KOI dan CdM, serta membangun suasana yang kondusif bagi atlet merupakan bagian penting dari perjalanan menuju prestasi.

Karena itu, kehadiran pimpinan cabang olahraga dalam konsolidasi Tim Indonesia menjadi pesan bahwa perjuangan di Asian Games harus dilakukan secara bersama-sama.

Tidak boleh ada ego sektoral.

Tidak boleh ada jarak antara pengurus, pelatih, atlet dan pemerintah.

Semua harus berada dalam satu barisan ketika Merah Putih dipertaruhkan.

432 Atlet, 35 Cabang Olahraga

Chef de Mission Tim Indonesia Todotua Pasaribu menyampaikan bahwa Indonesia akan mengirimkan 432 atlet dari 35 cabang olahraga ke Asian Games 2026.

Sepak takraw menjadi salah satu cabang olahraga yang diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap perjuangan kontingen Indonesia.

Dengan persaingan olahraga Asia yang semakin ketat, setiap nomor pertandingan harus dipersiapkan secara serius.

Bagi PB PSTI, Asian Games menjadi salah satu panggung penting untuk mengukur sejauh mana hasil pembinaan sepak takraw Indonesia mampu bersaing dengan kekuatan tradisional seperti Thailand, Malaysia dan negara-negara Asia lainnya.

Karena itu, posisi H. Surianto dan jajaran PB PSTI bukan sekadar hadir dalam seremoni keberangkatan.

Ada tanggung jawab lebih besar yang melekat: mengawal proses agar atlet sepak takraw dapat bertanding dengan kesiapan terbaik dan tanpa kehilangan identitas sebagai pejuang Merah Putih.

Menpora: Fokus pada Perjuangan

Menpora Erick Thohir meminta para atlet memanfaatkan waktu yang tersisa untuk menjaga fokus dan memberikan kemampuan terbaik.

Dengan pertandingan yang semakin dekat, pemerintah menekankan pentingnya kekompakan antara Kemenpora, KOI, CdM dan seluruh cabang olahraga.

“Bahwa kita harus bersatu,” ujar Erick.

Pesan tersebut menjadi sangat relevan bagi sepak takraw.

Sebab prestasi tidak lahir dari satu pihak.

Pemerintah menyediakan dukungan kebijakan dan pendanaan. Organisasi olahraga membangun sistem pembinaan. Pelatih menyiapkan strategi. Atlet menjalankan perjuangan di lapangan.

Semua memiliki peran, tetapi semuanya bermuara pada satu tujuan: Merah Putih.

Target Empat Emas

Indonesia menargetkan empat medali emas pada Asian Games 2026 setelah tiga nomor yang sebelumnya menjadi sumber medali tidak dipertandingkan.

Target tersebut menjadi tantangan sekaligus motivasi bagi seluruh cabang olahraga.

Erick Thohir menegaskan atlet diminta fokus terlebih dahulu pada perjuangan dan prestasi.

“Berjuang dahulu, baru kita bicara bonus,” tegasnya.

Bagi H. Surianto dan PB PSTI, pesan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun mental bertanding para atlet.

Medali memang menjadi target.

Namun proses menuju podium harus dibangun dengan disiplin, sportivitas, kerja keras dan kesiapan mental.

Menjaga Tradisi, Membangun Masa Depan

Sepak takraw Indonesia memiliki sejarah dan basis pembinaan yang panjang.

Tantangan ke depan adalah bagaimana tradisi tersebut terus dikembangkan agar tidak berhenti pada prestasi masa lalu.

Asian Games 2026 menjadi salah satu momentum untuk menjawab tantangan tersebut.

H. Surianto bersama PB PSTI dituntut terus memperkuat pembinaan dari tingkat akar rumput hingga tim nasional, sehingga regenerasi atlet dapat berjalan berkesinambungan.

Sebab keberhasilan satu generasi atlet tidak boleh menjadi akhir dari perjalanan.

Prestasi harus melahirkan regenerasi. Regenerasi harus melahirkan prestasi berikutnya.

Obor Menyala, Tekad Dikokohkan

Penyalaan simbolis Obor Satu Semangat Indonesia oleh Menpora Erick Thohir menjadi penanda kuat bahwa perjalanan menuju Aichi-Nagoya semakin dekat.

Di tengah kobaran semangat tersebut, H. Surianto bersama PB PSTI dan seluruh insan olahraga Indonesia memiliki tugas yang sama: memastikan perjuangan para atlet mendapatkan dukungan terbaik.

Dari Jakarta menuju Jepang, sepak takraw Indonesia membawa harapan.

Bukan sekadar untuk mengejar medali, tetapi untuk menunjukkan bahwa hasil pembinaan olahraga Indonesia mampu berdiri sejajar dan bersaing di level Asia.

Karena ketika atlet sepak takraw memasuki arena pertandingan, yang mereka bawa bukan hanya nama cabang olahraga.

Mereka membawa nama Indonesia.

Dan ketika Merah Putih berkibar di Aichi-Nagoya, seluruh perjuangan panjang H. Surianto bersama PB PSTI, pelatih, ofisial dan para atlet akan menemukan maknanya.

Satu tekad. Satu perjuangan. Satu Merah Putih.

SUARA AJATAPPARENG Mengawal Prestasi, Menguatkan Semangat Negeri.

Exit mobile version