Tanpa Sebar Undangan, Ribuan Warga Hadir; Keteladanan, Silaturahmi dan Kepedulian Sosial Menguat
PAREPARE, SUARA AJATAPPARENG — Lebih dari dua ribu warga Kota Parepare dan daerah sekitarnya menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar di kediaman Prof. Dr. H. Surianto AM, S.Ag., M.M., Jalan Jenderal Ahmad Yani Km. 4, Parepare, Ahad, 6 September 2026.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak kegiatan berlangsung. Ribuan jamaah memadati lokasi peringatan Maulid, bahkan hingga lantai dua kediaman tersebut. Menariknya, kegiatan ini disebut dilaksanakan tanpa penyebaran undangan secara khusus, namun masyarakat tetap datang untuk mengikuti rangkaian peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Sejumlah tokoh masyarakat turut hadir. Tampak pula unsur pimpinan dan anggota DPRD Parepare serta sejumlah tokoh dari berbagai latar belakang, termasuk kalangan politik dan masyarakat.
Bagi masyarakat yang hadir, tingginya antusiasme tersebut dinilai tidak terlepas dari kedekatan H. Surianto dengan warga. Sebagai tokoh yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial dan kemasyarakatan, H. Surianto disebut memiliki hubungan yang cukup kuat dengan berbagai lapisan masyarakat.
Tokoh masyarakat Parepare, Ahmad Dalle alias Telleng, yang turut mengikuti kegiatan tersebut, menilai kehadiran ribuan warga menjadi gambaran kedekatan H. Surianto dengan masyarakat.
“H. Surianto adalah salah satu tokoh masyarakat Parepare yang dicintai warga. Kedekatannya dengan masyarakat sudah lama terbangun,” ujar Ahmad Dalle.
Menurutnya, nilai sosial yang ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari menjadi salah satu alasan masyarakat memberikan tempat tersendiri kepada H. Surianto.
Kepedulian Sosial dalam Semangat Maulid
Selain menjadi momentum memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, kegiatan tersebut juga diwarnai dengan kepedulian sosial. Sejumlah warga yang hadir mendapatkan bantuan uang transportasi dari tuan rumah.
Bantuan tersebut bahkan diterima oleh warga yang datang tanpa undangan khusus. Bagi sebagian masyarakat, hal itu bukan semata-mata dilihat dari nilai nominalnya, melainkan sebagai bentuk perhatian dan kepedulian.
Salah seorang warga yang hadir mengungkapkan apresiasinya terhadap sikap tersebut.
“Saya tidak menilai besar atau kecilnya uang transportasi yang diberikan. Bagi saya, yang lebih penting adalah kedermawanan dan keikhlasan beliau memberi tanpa meminta sesuatu sebagai balasan. Kami datang mengikuti Maulid, bukan karena kepentingan politik seperti Pilkada atau pemilihan caleg,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan harapan masyarakat agar kegiatan sosial dan keagamaan tetap ditempatkan sebagai ruang pengabdian, silaturahmi, dan kepedulian terhadap sesama.
H. Surianto: Tidak Ada Undangan, Tapi Masyarakat Datang
Saat ditemui SUARA AJATAPPARENG, Prof. Dr. H. Surianto mengaku bersyukur atas kehadiran masyarakat yang begitu besar.
Ia mengatakan, panitia tidak melakukan penyebaran undangan secara khusus. Namun, warga dari Parepare dan sejumlah daerah sekitar tetap datang dan memenuhi kediamannya untuk bersama-sama memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
“Alhamdulillah, kami bersyukur atas kehadiran masyarakat. Kami tidak menyebarkan undangan, tetapi yang hadir kurang lebih dua ribuan warga. Bahkan lantai dua juga penuh dan sesak oleh jamaah,” ujar H. Surianto.
Baginya, kehadiran masyarakat merupakan kebahagiaan tersendiri sekaligus amanah untuk terus menjaga hubungan baik dengan warga.
Maulid sebagai Ruang Meneladani Akhlak Rasulullah
Lebih dari sekadar perayaan keagamaan, Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum untuk merefleksikan kembali ajaran dan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai kejujuran, amanah, kepedulian, kedermawanan, persaudaraan dan keikhlasan merupakan bagian dari akhlak Rasulullah yang relevan untuk terus dihidupkan di tengah masyarakat.
Dalam kehidupan sosial yang semakin kompleks, peringatan Maulid juga dapat menjadi ruang memperkuat solidaritas. Ketika masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat dan berbagai unsur lainnya berkumpul dalam satu majelis, sesungguhnya terdapat pesan besar tentang pentingnya menjaga persaudaraan dan kebersamaan.
Kehadiran lebih dari dua ribu warga di kediaman Prof. Dr. H. Surianto pun menjadi potret bahwa kegiatan keagamaan masih memiliki daya kuat untuk menyatukan masyarakat.
Di tengah kesibukan dan perbedaan pilihan maupun latar belakang, Maulid Nabi menghadirkan satu ruang yang sama: meneguhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW dan berusaha menerjemahkan akhlaknya dalam kehidupan nyata.
Bagi H. Surianto, semangat berbagi dan menjaga silaturahmi merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Sebab, nilai ibadah tidak hanya tercermin dalam hubungan manusia dengan Sang Pencipta, tetapi juga dalam kepedulian terhadap sesama.
Ribuan warga yang hadir tanpa undangan menjadi penanda kuatnya ikatan sosial. Sementara semangat berbagi yang mewarnai kegiatan menjadi pengingat bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya diukur dari kedudukan yang dimiliki, tetapi dari sejauh mana kehadirannya mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Maulid Nabi Muhammad SAW di kediaman Prof. Dr. H. Surianto pun meninggalkan pesan sederhana namun mendalam: meneladani Rasulullah tidak cukup hanya dengan mengenang sejarahnya, tetapi harus diwujudkan melalui akhlak, kepedulian, keikhlasan, dan kebermanfaatan bagi sesama.
(SUARA AJATAPPARENG)

