PAREPARE, SUARA AJATAPPARENG – Kelompok Kerja (Pokja) IV Tim Penggerak PKK Kota Parepare menggelar sosialisasi sekaligus penguatan komitmen Program Gerakan Keluarga Sehat, Tanggap dan Tangguh Bencana (GKSTTB) dengan fokus peduli stunting di Kelurahan Lemoe, Kecamatan Bacukiki. Selasa, 27 Januari 2026.
Kegiatan ini dibuka oleh Camat Bacukiki, Muhammad Syakir, didampingi Ketua TP PKK Kecamatan Bacukiki. Sosialisasi tersebut turut melibatkan berbagai Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), antara lain Dinas Kesehatan, Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB), Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A), Dinas Ketahanan Pangan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (Perkimtan), serta instansi vertikal seperti Kementerian Agama dan Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Bacukiki.
Selain itu, kegiatan juga dihadiri Kepala Puskesmas Lemoe dan Lompoe, Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kecamatan Bacukiki, Pokja IV PKK tingkat kota, kecamatan dan kelurahan, serta para Ketua RW dan kader PKK se-Kelurahan Lemoe.
Camat Bacukiki, Muhammad Syakir, menjelaskan bahwa program GKSTTB merupakan inisiatif PKK yang bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas keluarga dalam menghadapi berbagai potensi bencana.
“Bencana yang dimaksud tidak hanya bencana alam, tetapi juga bencana kesehatan, termasuk stunting yang dapat berdampak jangka panjang pada kualitas generasi mendatang,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pokja IV TP PKK Kota Parepare, dr. Nurhamidar Aslan, menegaskan bahwa GKSTTB merupakan salah satu program strategis PKK yang berorientasi pada pembentukan individu, keluarga, dan masyarakat yang mandiri serta mampu berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan keluarga dan kelestarian lingkungan.
Berdasarkan Keputusan Ketua TP PKK Kota Parepare, Kelurahan Lemoe ditetapkan sebagai lokus program GKSTTB Peduli Stunting dari sembilan program utama GKSTTB.
Ia menjelaskan, terdapat tujuh indikator yang menjadi fokus pemantauan dalam program tersebut. Untuk mencapai target tersebut, intervensi pencegahan stunting harus dimulai sejak masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun.
“Upaya pencegahan stunting tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan komitmen bersama, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, kader PKK, hingga keluarga sebagai garda terdepan,” tegasnya.
Dalam kegiatan tersebut juga digelar Focus Group Discussion (FGD) yang dipandu Sekretaris Pokja IV PKK Kota Parepare, Kasna. Diskusi ini menjadi ruang koordinasi lintas sektor untuk memperkuat sinergi dalam pelaksanaan program peduli stunting di tingkat masyarakat.
Kasna melaporkan, seluruh peserta FGD menyatakan kesiapan untuk bersinergi dan mendukung program tersebut sesuai peran dan tugas pokok masing-masing, sebagai bagian dari upaya mewujudkan Zero Stunting 2029 di Kota Parepare.
Di sisi lain, Ketua TP PKK Kecamatan Bacukiki menegaskan komitmennya untuk terus menggerakkan kader hingga tingkat kelurahan dan keluarga, sehingga program peduli stunting tidak berhenti pada tataran sosialisasi, tetapi benar-benar diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari masyarakat.
Melalui penguatan kolaborasi lintas sektor dan pemberdayaan keluarga, diharapkan program GKSTTB tidak hanya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan keluarga, tetapi juga menjadi langkah nyata dalam membangun generasi Parepare yang sehat, tangguh, dan berkualitas di masa depan.(*Fr)

















