Beranda ADVERTORIAL Prof. Yusril Ihza Mahendra 70 Tahun: Merayakan Dedikasi dengan Warisan Intelektual

Prof. Yusril Ihza Mahendra 70 Tahun: Merayakan Dedikasi dengan Warisan Intelektual

Prof. Yusril Ihza Mahendra.

Oleh : Saleh Mude.

JAKARTA, SUARA AJATAPPARENG
Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra genap berusia 70 tahun. Lahir di Manggar, Belitung Timur, pada 5 Februari 1956, tokoh hukum tata negara ini menandai tujuh dekade perjalanan hidupnya bukan dengan perayaan seremonial semata, melainkan dengan menghadirkan warisan intelektual bagi bangsa.
Sabtu (7/2), di Balai Kartini Jakarta, Prof. Yusril menggelar acara tasyakuran bertajuk “Setengah Abad Dedikasi untuk Bangsa: Peluncuran 8 Buku Rekam Jejak 70 Tahun Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra.” Acara ini dihadiri keluarga, guru, sahabat, kolega, murid, para akademisi, diplomat, hingga generasi muda pencinta buku.

Dikenal sebagai salah satu pakar hukum paling berpengaruh di Indonesia pasca-reformasi, Prof. Yusril telah mengabdi di berbagai kabinet presiden. Saat ini, ia dipercaya Presiden Prabowo Subianto sebagai Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan dalam Kabinet Merah Putih.

Delapan Buku, Ribuan Halaman Pemikiran

Dalam kesempatan tersebut, diluncurkan delapan buku yang merekam perjalanan intelektual, pemikiran hukum, serta kontribusi Prof. Yusril bagi negara. Total ribuan halaman karya tersebut dicetak lebih dari seribu eksemplar per judul dan dibagikan secara gratis kepada para tamu undangan.

Delapan buku itu meliputi:

  1. The Untold Stories of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra dan Testimoni Kolega, editor M. Saleh Mude dkk, 926 halaman.
  2. The Autobiography of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Testimoni Kolega, dan Hadiah Puisi, editor M. Saleh Mude, 492 halaman, dwibahasa (Indonesia–Arab).
  3. ​Islam, Democracy, and Human Rights in Contemporary Indonesia, editor Prof. Yusril Ihza Mahendra dan Prof. Hafid Abbas, 192 halaman.
  4. Pemikiran Politik Yusril Ihza Mahendra: Islam, Negara, dan Demokrasi, karya Dr. Herdito Sandi Pratama, 322 halaman.
  5. Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra: Keadilan yang Memulihkan, karya Ahmadie Thaha, 460 halaman.
  6. The Landmark Cases of Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, karya Prof. Dr. Fitra Arsil dan Dr. Qurrata Ayuni, 540 halaman.
  7. ​Lebih Dekat dengan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra: Pandangan Tokoh dan Sahabat, Ahmad Pratomo dkk, 112 halaman.
  8. Di Mana Bumi Dipijak: Novel Biografis, karya Andre Syahreza, 188 halaman.

Perayaan yang Berbeda

Lebih dari seribu tamu hadir dalam acara tersebut, termasuk undangan dari luar negeri seperti Malaysia, Jepang, dan Filipina, serta para duta besar negara sahabat. Perayaan ini mendapat apresiasi luas karena menempatkan buku dan pemikiran sebagai pusat peringatan usia.

Wartawan senior Ahmadie Thaha menilai peluncuran delapan buku ini sebagai peristiwa langka.

“Ini bukan sekadar perayaan ulang tahun, melainkan penanda setengah abad dedikasi seorang anak bangsa. Bukan pesta yang dirayakan, melainkan pemikiran; bukan hingar-bingar, melainkan warisan intelektual,” tulisnya.

Warisan untuk Generasi Mendatang

Dalam pengantar penerbitan, Prof. Dr. Hafid Abbas menegaskan bahwa delapan buku tersebut diharapkan menjadi sumber rujukan akademik, inspirasi bagi generasi muda, serta penguat literasi hukum, politik, dan demokrasi di Indonesia.

“Warisan intelektual ini tidak hanya untuk dikenang, tetapi dimanfaatkan secara aktif oleh dunia akademik dan masyarakat luas, baik di tingkat nasional maupun internasional,” tulisnya.

Peluncuran delapan buku ini sekaligus menegaskan posisi Prof. Yusril Ihza Mahendra bukan hanya sebagai negarawan dan ahli hukum, tetapi juga sebagai arsitek pemikiran yang jejaknya terus hidup dalam nalar, kebijakan, dan buku-buku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini