Oleh: Abdul Razak Arsyad, S.H.,M.H.
PAREPARE, SUARA AJATAPPARENG – Jumat, 10 April 2026 menjadi momentum yang tak biasa bagi penulis. Setelah sekian lama hanya mendengar tentang kegiatan Jamaah Majelis Suhada—yang dikenal dengan konsistensinya melaksanakan shalat subuh berjamaah setiap Jumat dengan balutan seragam putih—akhirnya langkah ini sampai juga di titik awal perjalanan spiritual yang selama ini tertunda.
Majelis Suhada bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi telah menjadi gerakan kolektif yang menghidupkan masjid di waktu subuh, menghadirkan semangat kebersamaan, serta memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat. Ajakan untuk bergabung sebenarnya telah lama datang, baik dari sahabat di warung kopi maupun jamaah Masjid Raya. Namun, keinginan itu kerap berbenturan dengan realitas keseharian.
Rutinitas keluarga menjadi salah satu alasan yang selama ini mengikat. Setiap dini hari, aktivitas rumah tangga telah dimulai. Mami Dela harus mengantar kue ke sejumlah warung, sementara putri tercinta, Dela Putri Arsy Arrazak, membutuhkan pendamping. Dalam kondisi seperti itu, pilihan paling mudah adalah tetap menunaikan shalat subuh di rumah.
Namun, hidayah memiliki jalannya sendiri.
Dorongan kuat datang dari sahabat sekaligus senior, Anju Mandji, yang dalam beberapa pekan terakhir terus mengingatkan pentingnya menghadiri Majelis Suhada. Meski keinginan itu ada, hambatan klasik seperti rasa malas bangun dini hari kerap menjadi penghalang. Hingga pada Jumat pagi itu, sekitar pukul 03.00 WITA, penulis terbangun lebih awal dari biasanya.
Percakapan singkat dengan Mami Dela menjadi titik balik. Ketika niat untuk ikut shalat subuh berjamaah di Majelis Suhada yang saat itu dilaksanakan di Masjid Pesantren DDI Ujung Lare diungkapkan, respons yang datang justru penuh dukungan. “Semua bisaji kuatur, pergi meki,” ujar beliau, seakan membuka jalan yang selama ini terasa tertutup.
Dengan arahan melalui pesan WhatsApp dari Anju Mandji, langkah pertama menuju Majelis Suhada pun dimulai. Suasana subuh yang khusyuk, barisan jamaah yang rapi dengan pakaian putih, serta semangat kebersamaan yang terasa hangat, menghadirkan pengalaman spiritual yang berbeda.
Namun, momen yang paling membekas adalah tausiyah yang disampaikan oleh ustaz dari pondok pesantren setempat. Ceramah tersebut menyinggung tentang seorang mualaf yang merasakan kenikmatan luar biasa dalam shalat berjamaah. Pesan itu terasa sangat personal, seolah-olah ditujukan langsung kepada penulis yang baru pertama kali hadir.
Refleksi pun muncul: jika seorang mualaf yang baru mengenal Islam mampu merasakan keindahan shalat berjamaah, mengapa seorang muslim yang telah lama menjalankan ibadah justru masih diliputi rasa malas, bahkan hanya untuk satu kali subuh berjamaah dalam sepekan?
Pengalaman ini menjadi titik kesadaran bahwa ibadah berjamaah bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan ruhani yang mampu menguatkan iman dan mempererat ukhuwah. Majelis Suhada, dalam hal ini, telah menjadi wadah yang efektif untuk membangun kebiasaan baik tersebut di tengah masyarakat.
Di balik konsistensi dan geliat spiritual Majelis Suhada, terdapat sosok sentral yang patut mendapat apresiasi mendalam, yakni H. Bakhtiar Syarifuddin selaku muassis atau penggagas utama kegiatan ini. Dengan ketulusan dan kepedulian yang tinggi terhadap syiar Islam, beliau menghadirkan sebuah gerakan yang tidak hanya hidup, tetapi juga tertata dengan baik, terstruktur, dan terorganisir secara rapi.
Kehadiran beliau bukan sekadar sebagai inisiator, melainkan sebagai penggerak ruh yang mampu menularkan semangat kepada jamaah. Kepemimpinannya mencerminkan keikhlasan dalam beramal, keteguhan dalam istiqamah, serta visi yang jauh ke depan dalam membangun peradaban berbasis masjid.
Pada kesempatan subuh tersebut, juga disampaikan bahwa pelaksanaan Majelis Suhada berikutnya direncanakan akan digelar di Mangkoso, tepatnya di masjid yang didirikan oleh ulama kharismatik, Anregurutta Kyai H. Ambo Dalle. Rencana ini menjadi bukti bahwa gerakan Majelis Suhada terus berkembang, menjangkau lebih luas, dan menghidupkan jejak-jejak dakwah para ulama terdahulu.
Perpaduan antara warisan keilmuan para ulama besar dan semangat gerakan kontemporer seperti Majelis Suhada menjadi kekuatan tersendiri dalam membangun kesadaran umat akan pentingnya memakmurkan masjid, khususnya di waktu subuh.
Ke depan, komitmen pun mulai ditanamkan. Jika tidak ada halangan, kehadiran di Majelis Suhada akan terus diupayakan sebagai bagian dari perjalanan memperbaiki diri.
Kisah ini bukan hanya tentang satu individu, tetapi juga tentang pentingnya lingkungan, sahabat, dan keluarga dalam menghadirkan hidayah. Sebab, terkadang langkah kecil menuju kebaikan membutuhkan dorongan besar dari orang-orang terdekat.
Majelis Suhada telah membuktikan bahwa gerakan sederhana seperti shalat subuh berjamaah dapat menjadi pintu masuk bagi perubahan yang lebih besar—membangun kesadaran, menumbuhkan disiplin, dan menghadirkan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari.

















