Oleh : Abdillah Natsir
SUARA AJATAPPARENG – Kabar duka itu datang pada Kamis pagi, 11 Juni 2026. H. Ahmad Eddy Baramuli berpulang ke rahmatullah dalam usia 90 tahun. Berita tersebut bukan hanya menghadirkan kesedihan bagi keluarga besar Baramuli, tetapi juga bagi saya pribadi, sahabat, kolega, dan masyarakat Sulawesi Selatan yang mengenal sosoknya sebagai pribadi yang hangat, sederhana, selalu semangat dan penuh ketulusan.
Bagi saya pribadi, almarhum bukan sekadar tokoh politik atau sesepuh Partai Golkar. Saya mengenalnya sebagai seorang sahabat, orang tua, sekaligus figur yang selalu menghadirkan kematangan pribadi dan rasa nyaman dalam setiap pertemuan. Di balik posisinya yang pernah menduduki jabatan penting sebagai Ketua DPRD Sulawesi Selatan dan tokoh berpengaruh di Partai Golkar, Eddy Baramuli tetaplah pribadi yang rendah hati dan mudah didekati.
Setiap kali bertemu dengannya, saya selalu merasakan keteduhan. Beliau tidak pernah menempatkan dirinya sebagai orang besar yang harus dihormati secara berlebihan.
Sebaliknya, ia hadir dengan kesederhanaan yang membuat siapa pun merasa dekat. Ia lebih banyak mendengar daripada berbicara, lebih suka merangkul daripada menjaga jarak. Saat-saat berdiskusi dengannya saya banyak mendapatkan pikiran pikiran yg brilian baik itu di bidang politik maupun di bidang usaha.
Lahir di Pinrang pada 13 Mei 1936, Eddy Baramuli tumbuh dari keluarga yang telah memberi kontribusi besar bagi bangsa, khususnya Sulawesi Selatan. Ia adalah adik kandung almarhum Achmad Arnold (A.A.) Baramuli, tokoh nasional yang pernah menjabat Ketua Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia. Namun, seperti yang saya kenal selama ini, Eddy tidak pernah hidup dalam bayang-bayang nama besar keluarganya. Ia membangun jalan pengabdiannya sendiri dengan kerja keras, kesetiaan, dan komitmen yang kuat terhadap masyarakat serta partai yang dibesarkannya.
Dalam dunia politik, ia dikenal sebagai kader Golkar yang loyal dan konsisten. Pengabdiannya berlangsung sepanjang hayat. Ia tidak hanya menjadi bagian dari sejarah politik Sulawesi Selatan, tetapi turut membentuk dan membina generasi-generasi penerus. Banyak kader muda yang mendapatkan nasihat, arahan, dan pelajaran kehidupan darinya. Pengalamannya yang panjang menjadikan pandangannya selalu dihormati dan didengarkan.
Namun, yang paling saya kenang bukanlah jabatan-jabatannya. Yang paling membekas adalah ketulusannya dalam menjaga hubungan antarmanusia. Ia tidak pernah membeda-bedakan orang berdasarkan status, kedudukan, atau latar belakang. Kepada sahabat, ia setia. Kepada keluarga, ia penuh perhatian. Kepada masyarakat, ia selalu berusaha hadir dan memberi manfaat.
Dalam berbagai kesempatan, saya menyaksikan bagaimana beliau menempatkan silaturahmi sebagai sesuatu yang sangat berharga. Baginya, hubungan baik antarsesama adalah modal sosial yang harus dijaga. Karena itu, tidak mengherankan jika begitu banyak orang merasa kehilangan atas kepergiannya.
Saya mengenal almarhum secara dekat dan cukup intens berkomunikasi dengannya, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Kedekatan itu semakin terjalin ketika saya ikut berkontestasi dalam pemilihan di Kabupaten Pinrang bersama putranya, H. Jaya Baramuli, beberapa waktu lalu. Dalam berbagai kesempatan, saya menyaksikan secara langsung bagaimana beliau memandang kehidupan, keluarga, usaha, dan pengabdian kepada masyarakat.
Di mata saya, Eddy Baramuli adalah sosok insan yang penuh tawadhu. Kerendahan hati, semangat hidup yang tidak pernah padam, serta kemampuannya memberi inspirasi kepada orang-orang di sekitarnya merupakan bagian dari keseharian beliau. Bahkan di usia yang sudah sangat sepuh, beliau tetap aktif memimpin dan mengawal perkembangan ESA PUTLI Group, perusahaan yang bergerak di bidang perikanan dan terus berkembang hingga kini. Semangat kerja dan dedikasi yang ditunjukkannya menjadi teladan bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus berkarya dan memberi manfaat.
Selain dikenal sebagai tokoh politik dan pengusaha, perhatian beliau terhadap syiar Islam dan pembangunan umat juga sangat besar. Almarhum memiliki kepedulian yang tinggi terhadap rumah-rumah ibadah.
Melalui berbagai ikhtiar dan kontribusinya, almarhum turut membangun sejumlah masjid yang megah dan representatif sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan pembinaan masyarakat. Baginya, membangun masjid bukan sekadar membangun bangunan fisik, melainkan meninggalkan jejak amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir bagi generasi berikutnya.
Karena itulah, kepergian beliau bukan hanya kehilangan bagi keluarga besar Baramuli atau Partai Golkar semata. Sulawesi Selatan kehilangan seorang tokoh yang memadukan pengabdian politik, semangat kewirausahaan, kepedulian sosial, dan ketulusan dalam beragama dalam satu pribadi yang utuh.
Kini, sosok yang ramah itu telah berpulang. Usia sembilan dekade yang dianugerahkan Allah Swt telah diisi dengan pengabdian, persahabatan, dan keteladanan. Kehadirannya mungkin telah tiada secara fisik, tetapi jejak kebaikan yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam ingatan banyak orang.
Kepergian Eddy Baramuli mengingatkan kita bahwa jabatan dan kedudukan pada akhirnya akan menjadi bagian dari sejarah. Yang akan terus dikenang adalah kebaikan, ketulusan, dan manfaat yang pernah diberikan kepada sesama. Dan dalam hal itu, almarhum telah meninggalkan warisan yang tidak sedikit.
Terima kasih atas keteladanan, persahabatan, dan pengabdian yang telah engkau tunjukkan sepanjang hidup. Semoga Allah Swt menerima seluruh amal ibadahmu, mengampuni segala khilafmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Amien YRA.

















