Beranda ADVERTORIAL Perjalanan Religius Jemaah Majelis Suhada ke Mangkoso: Menyusuri Jejak Sejarah dan Menguatkan...

Perjalanan Religius Jemaah Majelis Suhada ke Mangkoso: Menyusuri Jejak Sejarah dan Menguatkan Spiritualitas

PAREPARE, SUARA AJATAPPARENG – Perjalanan religi Jemaah Majelis Suhada menuju Mangkoso, Kabupaten Barru, tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga napak tilas sejarah peradaban Islam di Sulawesi Selatan. Rombongan yang diberangkatkan pada Jumat dini hari tersebut dipimpin oleh H. A. Sudirman yang didampingi Ny. Hj. Nelfida Sodding (PO. Irwan Jawa), dengan menggunakan armada bus yang mengangkut para jemaah dari Parepare dan sekitarnya.Perjalanan ini sebelumnya diwarnai kisah perjuangan salah seorang jemaah yang sempat diliputi keraguan akibat kendala kendaraan pribadi. Namun berkat komunikasi aktif melalui grup WhatsApp Majelis Suhada, serta informasi dari Muassis Majelis, H. Bakhtiar Syarifuddin, terkait ketersediaan kursi kosong di bus, kesempatan untuk ikut serta akhirnya terbuka. Tepat pukul 03.00 WITA, rombongan bertolak dari titik kumpul di Jalan Sulawesi, Cappa Ujung.Setibanya di Mangkoso, jemaah tidak hanya melaksanakan agenda ibadah, tetapi juga diajak mengenal lebih dalam nilai historis kawasan tersebut. Masjid Mangkoso di Kabupaten Barru merupakan salah satu titik awal berkembangnya peradaban Islam di wilayah itu. Masjid ini dibangun atas inisiatif seorang tokoh lokal, H.M. Yusuf Andi Dagong, yang dikenal sebagai Raja Soppeng Riaja pada masanya.Masjid ini juga menjadi saksi berdirinya Pondok Pesantren Darud Da’wah Wal Irsyad (DDI) Mangkoso oleh ulama kharismatik AGH Abdurrahman Ambo Dalle pada tahun 1938. Sejak saat itu, Mangkoso berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang berpengaruh, tidak hanya di Barru, tetapi juga di kawasan timur Indonesia.Nilai spiritual kawasan ini semakin kuat dengan adanya catatan sejarah pertemuan malam Lailatul Qadar yang diyakini terjadi pada tahun 1939 di lokasi tersebut. Hal ini menjadikan Masjid Mangkoso tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol kekuatan spiritual dan pusat dakwah yang hidup hingga saat ini.Secara edukatif, kunjungan ini memberikan wawasan sejarah kepada para jemaah tentang pentingnya menjaga warisan keislaman dan peran ulama dalam membangun peradaban. Dari sisi konstruktif, kegiatan ini memperkuat jaringan ukhuwah Islamiyah lintas generasi, sekaligus menanamkan nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.Lebih jauh, perjalanan ini juga berdampak produktif bagi para jemaah. Selain meningkatkan kualitas keimanan, kegiatan ini membuka ruang refleksi diri, memperluas relasi sosial, serta mendorong partisipasi aktif dalam kegiatan keagamaan di tengah masyarakat.Perjalanan religi ke Mangkoso menjadi bukti nyata bahwa antara sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan dapat berpadu dalam satu langkah. Dari keraguan menjadi keyakinan, dari perjalanan fisik menuju perjalanan batin—sebuah pengalaman yang memperkaya makna kehidupan beragama.Oleh: Abdul Razak Arsyad, S.H., M.H.


TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini