Ketua Umum PB PSTI Kawal Sepak Takraw Indonesia Menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026
JAKARTA, SUARA AJATAPPARENG — Ada momentum istimewa yang menempatkan Prof. Dr. H. Surianto AM, S.Ag., M.M. dalam panggung olahraga nasional ketika Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara langsung menyebut namanya dalam acara pelepasan Kontingen Indonesia menuju Asian Games XX Aichi-Nagoya 2026 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (9/9/2026).
Nama H. Surianto disebut Presiden Prabowo dalam jajaran ketua umum induk organisasi cabang olahraga yang hadir pada acara kenegaraan tersebut.
“Ketua Umum Persatuan Sepak Takraw Indonesia, Profesor Surianto,” sebut Presiden Prabowo dalam sambutannya di hadapan jajaran pemerintah, pimpinan cabang olahraga, atlet, pelatih, ofisial dan undangan.
Penyebutan tersebut bukan sekadar sapaan protokoler. Bagi dunia olahraga, momen itu menunjukkan bahwa PB PSTI dan sepak takraw Indonesia berada dalam barisan penting ekosistem olahraga nasional yang ikut mengantarkan atlet Merah Putih menuju panggung Asia.
432 Atlet, 35 Cabor, Satu Merah Putih
Presiden Prabowo secara resmi melepas Kontingen Indonesia yang akan berlaga pada Asian Games XX Aichi-Nagoya 2026.
Dalam laporan Menpora Erick Thohir, Indonesia mengirimkan 432 atlet dari 35 cabang olahraga. Mereka akan bertanding di Jepang pada 19 September hingga 4 Oktober 2026.
Bagi para atlet, keberangkatan tersebut bukan sekadar perjalanan menuju sebuah kompetisi internasional.
Mereka membawa nama Indonesia.
Mereka membawa harapan rakyat.
Dan mereka membawa amanah untuk mengibarkan Merah Putih di salah satu panggung olahraga terbesar di dunia.
Dalam konteks tersebut, keberadaan pimpinan induk cabang olahraga menjadi sangat strategis.
Atlet adalah ujung tombak perjuangan, sementara organisasi olahraga merupakan salah satu fondasi yang memastikan pembinaan, pendampingan dan kesinambungan prestasi dapat berjalan.
H. Surianto, Wajah Sepak Takraw Indonesia di Panggung Nasional
Sebagai Ketua Umum PB PSTI, H. Surianto membawa mandat besar untuk terus memperkuat sepak takraw Indonesia.
Sepak takraw memiliki akar kuat dalam tradisi olahraga masyarakat Indonesia sekaligus sejarah panjang dalam kompetisi Asia. Karena itu, tantangan PB PSTI bukan hanya mempertahankan tradisi, tetapi menjadikannya sebagai kekuatan olahraga prestasi yang semakin profesional, kompetitif dan berkelanjutan.
Kehadiran H. Surianto di Istana Negara bersama para ketua umum cabang olahraga lainnya memperlihatkan bahwa pembinaan atlet tidak berdiri sendiri.
Ada pemerintah.
Ada induk organisasi.
Ada pelatih.
Ada atlet.
Ada ofisial.
Dan ada dukungan masyarakat.
Seluruh unsur tersebut harus bergerak dalam satu ekosistem.
Disebut Presiden, Sebuah Kehormatan Sekaligus Amanah
Bagi H. Surianto, disebut langsung oleh Presiden Prabowo dalam forum nasional tersebut tentu menjadi sebuah kehormatan.
Namun lebih dari itu, penyebutan tersebut juga dapat dimaknai sebagai amanah untuk terus mengawal perkembangan sepak takraw Indonesia.
Presiden Prabowo dalam sambutannya menegaskan bahwa olahraga memiliki arti penting bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurut Presiden, bangsa yang kuat membutuhkan rakyat yang kuat secara fisik, keterampilan dan semangat.
Pesan tersebut menemukan relevansinya dalam sepak takraw.
Sebab prestasi tidak hanya dibangun ketika atlet memasuki lapangan pertandingan.
Prestasi dibangun jauh sebelumnya melalui pembinaan, seleksi, pelatihan, kompetisi, regenerasi, penguatan mental dan tata kelola organisasi.
Di titik inilah peran PB PSTI dan kepemimpinan H. Surianto menjadi penting.
Bukan Sekadar Mengejar Medali
Asian Games Aichi-Nagoya menjadi ujian bagi seluruh cabang olahraga Indonesia.
Namun keberhasilan olahraga nasional tidak semestinya hanya diukur dari jumlah medali.
Ada pekerjaan yang lebih panjang: bagaimana menciptakan sistem pembinaan yang mampu melahirkan atlet berprestasi secara berkelanjutan.
H. Surianto dan PB PSTI memiliki ruang untuk terus memperkuat hal tersebut melalui pembinaan atlet dan pengembangan kompetisi sepak takraw nasional.
Medali adalah buah dari proses. Sedangkan proses membutuhkan organisasi yang kuat dan konsisten.
Karena itu, momentum Asian Games 2026 dapat menjadi bagian dari evaluasi sekaligus pijakan baru bagi sepak takraw Indonesia.
Dari Parepare, Mengawal Sepak Takraw Nasional
Kiprah H. Surianto juga memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya Parepare dan kawasan Ajatappareng.
Putra daerah yang dipercaya memimpin organisasi sepak takraw nasional kini tampil dalam forum kenegaraan bersama Presiden Republik Indonesia dan para pemimpin olahraga nasional lainnya.
Ini bukan hanya kebanggaan personal.
Ini juga menunjukkan bahwa daerah memiliki peluang untuk melahirkan figur yang mampu mengambil peran dalam pembangunan olahraga nasional.
Dari daerah, menuju panggung nasional.
Dari pembinaan, menuju prestasi.
Dan dari Indonesia, menuju panggung Asia.
Prabowo: 432 Atlet Adalah Kehormatan Besar
Presiden Prabowo memberikan pesan khusus kepada para atlet bahwa menjadi wakil Indonesia merupakan kehormatan besar.
Dari sekitar 287 juta penduduk Indonesia, hanya 432 atlet yang terpilih untuk membawa nama bangsa pada Asian Games 2026.
Presiden bahkan menekankan bahwa kemampuan para atlet untuk mewakili bangsa merupakan sesuatu yang patut disyukuri.
Pesan itu memperlihatkan bagaimana negara menempatkan atlet sebagai duta bangsa.
Dan di belakang para duta bangsa tersebut berdiri para pelatih, ofisial serta pimpinan cabang olahraga yang bertugas mengawal perjalanan mereka.
Salah satunya adalah Prof. Dr. H. Surianto AM, S.Ag., M.M., Ketua Umum PB PSTI.
Menjaga Merah Putih, Menguatkan Sepak Takraw
Pelepasan di Istana Negara menjadi titik awal menuju perjuangan sebenarnya di Aichi-Nagoya.
Bagi H. Surianto, momentum tersebut bukan akhir dari sebuah seremoni.
Justru menjadi pengingat bahwa tanggung jawab PB PSTI terhadap sepak takraw Indonesia semakin besar.
Para atlet harus berangkat dengan keyakinan.
Pelatih harus bekerja dengan strategi.
Organisasi harus memberikan dukungan.
Dan masyarakat harus memberikan doa.
Sebab ketika atlet sepak takraw Indonesia memasuki arena Asian Games, mereka tidak hanya bermain untuk dirinya sendiri.
Mereka bermain untuk Merah Putih.
Dan ketika Presiden Republik Indonesia menyebut langsung nama Prof. H. Surianto sebagai Ketua Umum Persatuan Sepak Takraw Indonesia di hadapan jajaran pimpinan olahraga nasional, pesan yang tersirat menjadi jelas:
Sepak takraw Indonesia memiliki tempat dalam perjuangan besar olahraga nasional.
Kini saatnya PB PSTI terus mengawal pembinaan, memperkuat prestasi dan memastikan sepak takraw Indonesia semakin diperhitungkan di Asia.
Dari Parepare untuk Indonesia.
Dari sepak takraw untuk Merah Putih.
Menuju Aichi-Nagoya dengan satu tekad:
Indonesia harus tampil, berjuang dan membanggakan.
SUARA AJATAPPARENG
Jujur Bersuara • Independen • Terpercaya

















