Beranda ADVERTORIAL Jejak Kekerabatan yang Dipertemukan Kembali di Parepare

Jejak Kekerabatan yang Dipertemukan Kembali di Parepare

Dari Kenangan Palu, Gontor hingga Hangatnya Pagi di Lapangan Andi Makkasau

Oleh: Abdul Razak Arsyad, S.H., M.H.

PAREPARE, SUARA AJATAPPARENG Puji syukur ke hadirat Allah SWT atas segala nikmat dan kesempatan yang diberikan-Nya. Ada pertemuan yang hadir secara kebetulan, tetapi bagi saya, tidak ada yang benar-benar kebetulan ketika Allah SWT mempertemukan kembali keluarga setelah sekian lama terpisah oleh jarak, waktu dan perjalanan hidup.

Setelah kemarin saya berkesempatan bersua dengan saudara sepupu dari almarhum ayah saya, Alm. H. M. Arsyad Rauf, hari ini kembali hadir sebuah momen yang begitu berkesan.

Saya bersama H. Abdurrahim (H. Anda) berkesempatan menemani Dr. M. Arafah Sinjar, M.Hum., yang akrab kami sapa Om Anjar, menikmati suasana pagi Kota Parepare.

Pagi itu kami mengawali hari dengan jogging bersama di Lapangan Andi Makkasau, kawasan Alun-Alun Kota Parepare. Di sela aktivitas olahraga dan percakapan ringan, kami bahkan sempat mengabadikan momen bersama di depan Patung Habibie-Ainun, salah satu ikon yang merepresentasikan kebanggaan masyarakat Kota Parepare.

Dari suasana pagi yang sederhana itulah keakraban perlahan tumbuh semakin dalam.

Bukan sekadar berbicara tentang olahraga, perjalanan, atau aktivitas sehari-hari. Percakapan kami kemudian membawa kepada cerita keluarga, leluhur, masa lalu dan jejak kehidupan yang ternyata memiliki begitu banyak persinggungan.

Menemukan Kembali Mata Rantai Keluarga

Om Anjar merupakan sosok yang memiliki perjalanan pendidikan dan kehidupan yang panjang.

Beliau telah berada di Pulau Jawa sejak dekade 1970-an. Dalam perjalanan pendidikannya, beliau pernah menimba ilmu di Pondok Modern Darussalam Gontor. Dunia akademik kemudian menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya hingga berkecimpung di lingkungan perguruan tinggi di Jakarta.

Namun, di balik perjalanan akademik tersebut, terdapat sebuah cerita keluarga yang bagi saya justru sangat menarik.

Dalam percakapan santai itu, saya semakin memahami bahwa Om Anjar adalah putra dari Kakek Annosi, yang merupakan saudara dari Kakek H. Kupe/H. Rauf dan memiliki keturunan yang kemudian berkembang di Kota Palu.

Mendengar cerita itu, ingatan saya seketika kembali ke masa lalu.

Saya teringat ketika pernah diajak ke Kota Palu, termasuk kenangan sederhana pergi ke empang dan menangkap ikan.

Kenangan masa kecil seperti itu mungkin tampak sederhana. Tetapi setelah bertahun-tahun berlalu, justru kenangan semacam itulah yang sering menjadi bagian paling berharga dari perjalanan sebuah keluarga.

Waktu boleh memisahkan manusia.

Jarak boleh membuat keluarga tersebar ke berbagai daerah.

Namun, cerita tentang leluhur dan kenangan masa lalu sering menjadi jembatan yang mempertemukan kembali generasi yang berbeda.

Dari Gontor, Jawa hingga Parepare

Perjalanan hidup Om Anjar juga memperlihatkan bagaimana pendidikan dapat membentuk wawasan seseorang.

Pengalaman menempuh pendidikan di Gontor, kemudian menjalani kehidupan akademik di Pulau Jawa sejak dekade 1970-an, tentu telah mempertemukannya dengan banyak lingkungan, pemikiran dan pengalaman.

Dalam perbincangan kami, beberapa nama lama yang memiliki keterkaitan dengan Parepare kembali disebut.

Salah satunya Yusuf, yang menurut cerita Om Anjar merupakan putra Anregurutta (AGH) Pa’Baja dan memiliki keterkaitan dengan keluarga Halim Kalla.

Cerita-cerita semacam itu membuat pertemuan menjadi semakin menarik. Dari satu nama muncul nama lainnya. Dari satu tempat muncul kenangan tempat yang lain.

Begitulah terkadang sebuah silaturahmi bekerja.

Ia bukan hanya mempertemukan dua orang, tetapi juga membuka kembali peta sejarah keluarga dan hubungan sosial yang pernah terjalin pada masa lalu.

Menikmati Parepare Lebih Dekat

Setelah jogging pagi, kami kemudian mengajak Om Anjar menikmati suasana Pelelangan Ikan CempaE.

Tempat itu tentu berbeda dengan lingkungan akademik dan kehidupan metropolitan yang selama ini akrab dengan perjalanan beliau.

Di CempaE, suasananya lebih sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat pesisir. Ikan segar, aktivitas nelayan dan denyut ekonomi masyarakat menjadi bagian dari pengalaman yang kami nikmati bersama.

Om Anjar mengaku bersyukur karena akhirnya memiliki kesempatan menginap satu malam lebih lama di Parepare.

“Syukur saya tidak jadi balik ke Makassar kemarin sore. Nginep semalam dan pagi ini bisa nikmati Parepare lebih dekat, bahkan ada tempat makan ikan segar di sini,” ungkapnya.

Kalimat sederhana tersebut bagi saya memiliki makna tersendiri.

Terkadang, kita terlalu terburu-buru mengejar perjalanan berikutnya, sehingga lupa menikmati sebuah tempat secara lebih dekat.

Satu malam tambahan ternyata memberikan kesempatan untuk mengenal Parepare bukan hanya dari jalan dan bangunannya, tetapi juga dari suasana pagi, masyarakatnya, kulinernya, dan kehangatan hubungan kekeluargaan.

Sebuah Jamuan yang Menjadi Pelajaran

Saya dan H. Abdurrahim merasa bersyukur dapat menjamu beliau.

Bagi saya pribadi, pertemuan ini bukan hanya tentang menerima kedatangan seorang keluarga.

Ada banyak hal yang saya petik.

Om Anjar adalah pribadi yang menurut saya memiliki wawasan luas. Pengalaman hidupnya yang panjang, perjalanan pendidikan, lingkungan akademik dan pengalaman merantau membuat pembicaraan dengannya selalu memiliki nilai.

Saya melihat beliau sebagai sosok yang dapat menjadi pandito bagi anak cucunya—figur yang dituakan, tempat bertanya, sumber pengalaman, sekaligus penyampai nilai-nilai kehidupan kepada generasi setelahnya.

Dan mungkin di situlah sesungguhnya makna sebuah keluarga.

Keluarga bukan hanya tentang siapa yang memiliki hubungan darah dengan kita.

Keluarga juga merupakan tempat kita belajar tentang asal-usul, perjuangan, kesabaran, pendidikan, persaudaraan dan bagaimana menjalani kehidupan dengan tetap menjaga nama baik keluarga.

Jangan Biarkan Sejarah Keluarga Hilang

Pertemuan sederhana ini kembali mengingatkan saya bahwa sejarah keluarga seharusnya tidak boleh hilang begitu saja.

Generasi hari ini perlu mengetahui siapa leluhurnya, dari mana mereka berasal, bagaimana perjalanan mereka, dan nilai apa yang mereka wariskan.

Sebab, ketika cerita dari generasi terdahulu tidak lagi diceritakan, maka perlahan mata rantai sejarah itu akan terputus.

Karena itu, silaturahmi menjadi jauh lebih penting daripada sekadar bertemu.

Silaturahmi adalah cara manusia merawat ingatan.

Melalui silaturahmi, kita mengenal kembali saudara yang mungkin selama ini hanya kita dengar namanya. Kita mengetahui kembali hubungan antarkeluarga. Kita menemukan cerita masa lalu yang sebelumnya tidak pernah kita ketahui secara utuh.

Dan yang paling penting, kita dapat mengambil hikmah dari perjalanan hidup orang-orang yang lebih dahulu menjalani kehidupan.

Nikmat yang Patut Disyukuri

Bagi saya, pertemuan dengan Om Anjar adalah salah satu nikmat Allah SWT yang patut disyukuri.

Kemarin bertemu dengan saudara sepupu ayah. Hari ini kembali dipertemukan dengan keluarga dalam suasana yang begitu hangat.

Jogging di Lapangan Andi Makkasau, berfoto di depan Patung Habibie-Ainun, kemudian menikmati ikan segar di CempaE, mungkin bagi orang lain hanyalah aktivitas biasa.

Tetapi bagi kami, pagi itu menjadi catatan kecil tentang keluarga, persaudaraan dan perjalanan waktu.

Ada masa lalu yang kembali dikenang.

Ada hubungan keluarga yang kembali ditemukan.

Ada ilmu dan pengalaman yang dapat dipetik.

Dan ada rasa syukur karena Allah SWT masih memberikan kesempatan untuk mempertemukan kami dalam keadaan sehat dan penuh keakraban.

Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kita pergi.

Tetapi juga tentang seberapa baik kita menjaga hubungan dengan orang-orang yang menjadi bagian dari perjalanan kita.

Jarak boleh memisahkan.

Waktu boleh berlalu.

Tetapi silaturahmi selalu memiliki jalan untuk mempertemukan kembali.

Dan pagi di Parepare itu, bagi saya, adalah salah satu cara Allah SWT mengingatkan: jangan pernah lupa dari mana kita berasal dan jangan pernah kehilangan saudara hanya karena jarak.

Abdul Razak Arsyad, S.H., M.H.
Penulis — Pemerhati Hukum, Pers dan Kemasyarakatan

SUARA AJATAPPARENG
Jujur Bersuara • Independen • Terpercaya

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini