Beranda ADVERTORIAL Dialog Publik KMPB Parepare Bersama Said Didu: Mengurai Kegelapan Menuju Indonesia Emas

Dialog Publik KMPB Parepare Bersama Said Didu: Mengurai Kegelapan Menuju Indonesia Emas

Pembacaan Pernyataan Sikap KMBP Parepare, oleh Muhlis Abdullah.

PAREPARE, SUARA AJATAPPARENG – Komunitas Masyarakat Peduli Bangsa (KMPB) Parepare menggelar Dialog Publik menghadirkan tokoh nasional H. Muhammad Said Didu pada Ahad, 14 September 2025 di Masjid Andalusia, Lantai 2, Jalan Atletik Selatan, Parepare.

Dialog kebangsaan ini mengangkat tema kritis sekaligus reflektif: “Mengurai Kegelapan Menuju Indonesia Emas: Mampukah Prabowo Membenahi Kerusakan Warisan Jokowi?” Tema tersebut dipilih sebagai ruang diskusi terbuka, di mana masyarakat diundang untuk mengajukan pertanyaan, menyampaikan pendapat, dan memberikan pandangan terkait masa depan bangsa.

Ketua Panitia, Muhlis Abdullahi, SH, membacakan Pernyataan Sikap KMBP yang menyoroti berbagai isu krusial. Antara lain: beban fiskal akibat utang negara, suburnya praktik korupsi, ketidakadilan hukum, hingga dominasi oligarki dalam pemerintahan.

Isi Pernyataan Sikap KMPB Parepare

KMBP menyampaikan 10 poin sikap, di antaranya:

1. Mendesak Presiden Prabowo Subianto membentuk Tim Pencari Fakta (TPF) independen terkait kerusuhan di berbagai daerah.
2. Menuntut penegakan hukum yang berkeadilan, termasuk pemrosesan hukum terhadap mantan Presiden Joko Widodo dan Gibran Rakabuming Raka.
3. Reformasi total Polri agar lebih akuntabel, termasuk pergantian Kapolri.
4. Reshuffle kabinet untuk menyingkirkan “menteri titipan rezim sebelumnya.”
5. Evaluasi proyek strategis nasional (PSN) yang dinilai hanya menguntungkan kelompok tertentu.
6. Eksekusi hukum terhadap pihak yang disebut sebagai provokator kegaduhan politik.
7. Mengembalikan kewenangan penuh KPK sebagai lembaga independen pemberantas korupsi.
8. Perubahan sistem keuangan DPR agar transparan dan wajar, mencontoh praktik di negara maju.
9. Penghentian proyek Ibu Kota Negara (IKN) yang dianggap membebani negara dan memperlebar ketimpangan.
10. Kritik terhadap sebagian ormas keagamaan yang dinilai terlalu pasif dalam mengawal kebijakan pemerintah.

Ruang Kritik dan Harapan

Dialog publik ini bukan sekadar forum politik, melainkan ajang pendidikan kebangsaan. Publik didorong untuk kritis namun tetap elegan dalam menyuarakan aspirasi. Kehadiran Said Didu, yang dikenal sebagai sosok kritis dengan tagline “Manusia Merdeka,” mempertegas semangat keterbukaan tersebut.

KMBP menegaskan bahwa pernyataan sikap mereka bukan sekadar kritik, melainkan bentuk kepedulian terhadap arah bangsa. “Kami ingin Indonesia berdaulat, adil, dan bermartabat,” ujar Muhlis.

Catatan Redaksi :
SUARA AJATAPPARENG menilai forum semacam ini penting sebagai bagian dari dinamika demokrasi. Kritik yang tajam harus dibarengi solusi yang membangun, sementara pemerintah juga diharapkan terbuka terhadap aspirasi masyarakat.

Bangsa yang besar bukan hanya ditopang oleh pemerintah yang kuat, tetapi juga masyarakat yang berani bersuara dan peduli pada masa depan bersama.(*AD)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini