Beranda ADVERTORIAL Mengabdi dengan Ketulusan: Potret Guru yang Menjaga Marwah Pendidikan

Mengabdi dengan Ketulusan: Potret Guru yang Menjaga Marwah Pendidikan

Sitti Patimang Taha, S.Pd. yang diapik oleh siswa kelasnya yang penuh keakraban.

Oleh : Abdul Razak Arsyad, S.H.,M.H.

SIDRAP, SUARA AJATAPPARENG — Profesi guru bukanlah tugas yang ringan. Di tangan para pendidiklah masa depan bangsa dipertaruhkan. Namun, pertanyaan kerap muncul: bagaimana jika seorang guru tidak lebih unggul dari muridnya? Bagaimana nasib bangsa jika guru tidak menjalankan amanah profesinya? Tantangan dunia pendidikan semakin kompleks, sementara kewenangan guru dalam menegakkan disiplin pun kini dibatasi oleh berbagai regulasi. Di tengah dinamika itu, sosok guru ideal tetap dibutuhkan—mereka yang mengajar dengan keteladanan, hati, dan dedikasi.

Salah satu potret nyata ketangguhan seorang pendidik dapat kita lihat pada diri Sitti Patimang Taha, S.Pd., seorang guru yang mengabdi di wilayah Pangkajene, Kabupaten Sidenreng Rappang. Menjalani keseharian sebagai single parent tidak mengurangi pengabdiannya pada dunia pendidikan. Justru, pengalaman hidup itulah yang membentuk karakter tegar dan keibuan yang menjadi ciri khas dalam mendidik para siswanya.

Tidak hanya berperan sebagai guru dan ibu bagi keempat anaknya, Patimang juga berhasil mengantarkan putra sulungnya meraih cita-cita sebagai Aparatur Penegak Hukum (APH)/Polisi. Keberhasilan itu menjadi inspirasi—bahwa peran seorang ibu sekaligus pendidik dapat melahirkan generasi berprestasi. Usai kepergian Kakaknya yang sebelumnya menjabat sebagai Ketua Perguruan Pencak Silat Baringin Sakti Kabupaten Sidrap, Patimang kemudian dipercaya untuk mengasuh dan memimpin perguruan tersebut, sebuah amanah yang menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap integritas dan dedikasinya.

Perjalanan karier Patimang tidak singkat. Ia pernah mengajar di berbagai sekolah di Sidrap demi memenuhi kewajiban profesional, termasuk pemenuhan jam sertifikasi yang menjadi regulasi pada masanya. Kini, seiring bertambahnya usia, ia bersyukur dapat mengabdi lebih dekat dari tempat tinggalnya, memberi sedikit ruang jeda tanpa mengurangi semangatnya untuk terus mendidik.

Meski berbagai kesulitan hidup kerap datang silih berganti, Patimang tetap tampil cerah, kuat, dan penuh optimisme di hadapan putra-putri serta murid-muridnya. Kesabarannya, keikhlasannya, dan rasa syukurnya menjadi energi yang menular pada siapa pun yang mengenalnya.

Selamat Hari Guru.
Mari kita lanjutkan pengabdian terbaik untuk masa depan generasi kita—karena dari tangan guru yang tulus dan berintegritaslah lahir perubahan bagi negeri.(*AD).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini